Namun kini, zaman berlari seperti arus deras di muara. Ramai anak muda lebih kenal kilau dunia yang jauh, tetapi lupa kilau pusaka di halaman sendiri. Tanjak yang dahulu tegak di kepala pahlawan, kini seakan terlipat diam di sudut peti kenangan.
Padahal orang tua dahulu berpesan dengan bahasa yang halus: Jika hilang pucuk pada rebung, patahlah harapan pada rimbun bambu. Begitulah ibaratnya jika warisan tidak dijaga, hilanglah jejak asal usul, kaburlah arah jati diri.
Tanjak bukan sekadar kain yang dilipat, tetapi lambang tegaknya marwah. Selama tanjak masih dipakai, selama itu pula ingatan kepada asal tidak akan hilang. Ia seperti pelita di malam pekat, kecil cahayanya namun cukup menerangi jalan pulang ke pangkal budaya.
Maka wahai anak Melayu, janganlah malu menegakkan tanjak di kepala. Biarlah orang berkata zaman telah berubah, namun akar tidak pernah meninggalkan tanah tempat ia tumbuh. Pakailah tanjak seperti menegakkan panji warisan, bukan untuk berbangga diri, tetapi untuk mengingat bahwa kita datang dari adat yang tinggi dan budi yang bersendi.
Sebab selama tanjak masih bertengger di kepala anak Melayu, selama itu pula warisan nenek moyang tidak akan hanyut dibawa arus zaman.